Batik Banyuwangi, Gajah Oling Yang Mendunia

 

Bersoal batik, bisa jadi pikiran kita langsung merujuk Kota Yogyakarta atau Solo. Ya, itu lumrah karena kedua kota ini kesohor soal batik. Ternyata di Banyuwangi, wilayah paling ujung timur pulau Jawa juga memiliki batik yang patut diperhitungkan keberadaannya. Salah satu motif khas batik Banyuwangi dikenal dengan nama “Gajah Oling”.

 

Untuk kesekian kalinya kami mengunjungi kota yang menyebut diri sebagai “The Sunrise of Java”. Sebutan yang pas disematkan mengingat letaknya memang di ujung timur pulau Jawa. Dalam kunjungan kali ini selain urusan pekerjaan tentu saja maksud hati ingin mengeksplor sesuatu yang lain di kota ini. Jika dalam kunjungan sebelumnya kami sempat mengeksplor beberapa tempat menarik seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Pura Agung Blambangan, hingga menyicip nikmatnya kuliner khas kota yang juga dijuluki “Bumi Blambangan” ini. Tentu dalam kunjungan kali ini kami ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda.

 

Dalam perjalanan dari Bandara Blimbingsari menuju hotel, kami terlibat obrolan seru dalam taksi. Sampai pada akhirnya kami mendapat informasi yang menarik dari sang sopir tentang salah satu daya tarik di Banyuwangi. “Wah, Banyuwangi itu bukan hanya Kawah Ijen saja. Kalau mau yang lain, salah satunya ya batik khas Banyuwangi pak. Sudah banyak orang yang membelinya jadi oleh-oleh,” jelas sopir taksi tersebut. Tak begitu lama kami sampai di penginapan. “Pak, mau ngga taksi bapak saya sewa hari ini buat keliling kota sekalian antar ke tempat perajin batik yang bapak katakan tadi?” tanya saya ke sopir taksi. Tampak jelas wajah sopir taksi sumringah tersenyum lebar tanda setuju dengan tawaran saya tadi.

 

Begitu proses check in selesai dan semua barang bawaan kami taruh di kamar, tanpa mengulur waktu lagi kami langsung meluncur ke tempat pembuatan batik Banyuwangi. Sepanjang perjalanan rasa penasaran bergelayut. Jujur, melihat motif batiknya saja belum pernah, apalagi proses pembuatannya. Tak terasa setengah jam kemudian kami sampai di Desa Simbar, Kecamatan Cluring, tepatnya di Sanggar Batik Virdes. Memang lokasinya sedikit jauh dari pusat kota. Dari depan sekilas tempat ini biasa, nampak sebuah rumah yang dijadikan showroom batik dengan halaman cukup luas sebagai tempat parkir. Tapi begitu kami berjalan ke bagian belakang, rupanya komplek ini cukup luas. Dan menariknya beberapa bangunan berupa rumah bergaya tradisional masyarakat Banyuwangi yang terbuat dari kayu dan papan.

 

Keberuntungan rupanya memihak kami. Saat itu kami dapat bertemu langsung Pak Suyadi, pemilik Sanggar Batik Virdes. Kami sempat berbincang-bincang meski hanya sejenak. Namun dari perbincangan tersebut banyak informasi yang kami peroleh seputar batik khas Banyuwangi. Nama Virdes merupakan singkatan dari Virgo Dewi Suyadi. Karena baik Suyadi maupun Dewi - istrinya, sama-sama memiliki zodiak Virgo. Suyadi menjelaskan bahwa motif batik khas Banyuwangi banyak ragamnya. Salah satu motif yang paling terkenal adalah Gajah Oling. Dari asal katanya, Gajah Oling merupakan gabungan kata dari gajah dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air (semacam belut).

 

Motif ini memiliki ciri berbentuk seperti tanda tanya (?), yang secara filosofis merupakan bentuk belalai gajah dan sekaligus bentuk uling (semacam belut). Di samping unsur utama itu, karakter batik tersebut juga dikelilingi sejumlah ornamen lain. Di antaranya, kupu-kupu, suluran (semacam tumbuhan laut), dan manggar (bunga pinang atau bunga kelapa). Ini konsep dasarnya, motif Gajah Oling yang dibatik di atas dasar kain putih.

 

 

Menurut Suyadi, pakem Gajah Oling ini bisa dikembangkan konsepnya sedemikian rupa. Tentu saja mengikuti selera pasar. Yang penting bentuk Gajah Oling tidak ditinggalkan, selalu ada di setiap kreasi kain batik buatannya. Hasilnya, corak batik Virdes terlihat lebih dinamis dan kaya warna. Beberapa motif lainnya antara lain Kawung, Kipasan, Kluwungan, Kopi Pecah, Kuping Gajah, Gedekan, Galaran, Blarakan, Blarak Semplah, Manukan, Kangkung Setingkes, Sembruk Cacing, dan masih banyak lagi.

 

Batik hasil karya Suyadi ini telah merambah ke sejumlah pasar, antara lain Palembang, Jambi, sejumlah kota di Kalimantan, dan hampir semua kota di Jawa Timur. Selain itu, Suyadi juga sering memasok batik Gajah Oling ke Italia, Perancis, Inggris, dan Australia. Tentu hal ini membanggakan karena batik khas Banyuwangi tidak hanya dikenal di pasar nasional tapi juga tembus pasar internasional.

 

Selain melihat-lihat koleksi di galeri yang berada di bagian rumah depan, kami berkesempatan berkeliling melihat proses pembuatan batik di workshop yang cukup luas. Jika diperhatikan area ini terbagi menjadi beberapa bagian menurut proses pengerjaannya. Pertama, kami melihat di bagian pembuatan batik cap. Di area ini terlihat beberapa orang sedang bekerja dengan bantuan alat cap. Sederhananya, seperti stempel di atas selembar kain. Alat cap ini terbuat dari tembaga yang sudah dibentuk menurut motif yang diinginkan. Alat cap dicelup ke dalam malam cair yang panas kemudian di cap dan ditekan di atas kain yang terhampar di atas meja besar.

 

 

 

Area berikutnya, terlihat beberapa ibu sedang sibuk membatik tulis. Dengan canting di tangan yang seolah menari di atas kain mengikuti motif yang sudah digambar sebelumnya di kain tersebut. Pengerjaan batik tulis ini selain bisa dikerjakan di workshop, rupanya bisa dibawa pulang dikerjakan di rumah. Tentu hal ini akan sangat membantu para ibu rumah tangga mendapat penghasilan tambahan. Untuk mengerjakan selembar kain batik tulis, seorang pembatik membutuhkan waktu satu sampai empat hari. Sementara di area lainya nampak para pekerja sedang mengerjakan proses pewarnaan dan nglorot, yaitu menghilangkan malam dari kain dengan cara dimasukkan ke dalam air mendidih.

 

Di halaman yang luas para pekerja yang kali ini didominasi pria sedang menjemur kain batik yang sudah melewati proses nglorot dan pencucian. Kain panjang penuh warna melambai tertiup angin seolah menghiasi halaman tersebut.

 

 

Berkeliling di Sanggar Batik Virdes ini benar-benar mengesankan. Dan rupanya setiap pengunjung yang datang baik itu rombongan maupun perorangan bisa berkeliling melihat proses pembuatan batik di tempat ini. Karena asyik ngobrol sambil mengabadikan setiap momen dalam bidikan kamera, tak terasa hari sudah sore. Tentu para pekerja pun sudah waktunya pulang. Kami pun juga harus meninggalkan tempat ini. Namun sebelum pulang, kami kembali ke dalam galeri untuk membeli beberapa potong kain batik sebagai oleh-oleh. Dan sudah pasti motif Gajah Oling masuk dalam daftar belanja. Sore itu kami pulang membawa pengalaman baru. Mengenal sebagian kecil karya adiluhung bangsa Indonesia yang sudah ada sejak zaman nenek moyang yang harus terus dilestarikan. ••

 

 

Teks & Foto Ristiyono

 

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour