Digital dan Millennial Disruptions Mengubah Industri Perhotelan dan Kepariwisataan

Disrupsi digital telah merambah ke berbagai sektor, termasuk ke industri pariwisata. Apalagi, saat ini semakin banyak generasi millennial yang telah menjadikan perjalanan wisata sebagai gaya hidup. Karenanya, para pelaku di industri pariwisata harus turut berbenah agar tidak ketinggalan tren.

 

Begitu juga yang akan dilakukan oleh PT Hotel Indonesia Natour (Persero). Untuk mengetahui lebih jelas mengenai strategi PT HIN (Persero), berikut kami sajikan hasil wawancara dengan Iswandi Said, Direktur Utama PT HIN (Persero).

 

Dalam rangka pengembangan industri kepariwisataan Indonesia ke depan, pemerintah saat ini menetapkan lima destinasi super prioritas. Bagaimana PT Hotel Indonesia Natour (Persero) turut berperan dalam mendukung pengembangan lima destinasi super prioritas tersebut?

 

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang berorientasi pada profit dan juga berperan sebagai “lokomotif pembangunan”, maka PT Hotel Indonesia Natour (Persero) sesuai core business-nya sebagai perusahaan hospitality yang saat ini terus mengembangkan diri menjadi jaringan hotel bertaraf internasional yang mengedepankan layanan dengan keramahtamahan khas Indonesia, akan berperan aktif turut mengembangkan lima destinasi super prioritas sebagai andalan dan tujuan wisata utama, yang meliputi Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

 

Dalam kaitan dengan tiga unsur utama kegiatan kepariwisataan, yaitu aspek transportasi, akomodasi, dan atraksi, maka PT Hotel Indonesia Natour (Persero) secara khusus melakukan pengembangan hotel-hotel yang berada di antara kawasan super prioritas tersebut, antara lain Grand Inna Malioboro, Inna Tretes, Labuan Bajo Marina, dan Inna Parapat yang akan instrumental dalam mendukung perkembangan dan pengembangan destinasi super prioritas tersebut.

 

Di samping hal tersebut, PT HIN (Persero) secara periodikal dan berkelanjutan melaksanakan berbagai event (atraksi) yang memadukan unsur kuliner, olahraga, dan lain-lain dengan kearifan lokal yang semakin mengangkat dan memopulerkan keunikan destinasi-destinasi super prioritas tersebut.

 

Langkah dan program yang telah dilaksanakan tersebut secara langsung maupun tak langsung telah berdampak terhadap upaya pengembangan destinasi super prioritas yang saat ini terus digalakkan.

 

Sejalan dengan pengembangan yang dilaksanakan, tantangan apa saja yang akan dihadapi oleh industri perhotelan dan pariwisata ke depan?

 

Seluruh kegiatan dan bidang industri, termasuk industri perhotelan dan pariwisata, dewasa ini menghadapi perubahan yang sangat besar, yaitu terjadinya digital dan millennial disruptions.

 

Akibat disrupsi dalam dua aspek tersebut, saat ini terjadi perubahan yang mendasar dan fundamental yang mengakibatkan berubahnya tatanan, perilaku, dan nilainilai lama dan terciptanya tatanan dan kelaziman-kelaziman baru.

 

Kondisi tersebut mengakibatkan business model yang kita jalankan selama ini menjadi “tidak relevan lagi”, khususnya terhadap millennial yang akan menjadi market terbesar di masa mendatang sehingga kita harus merejuvenasi business model maupun cara-cara dan metode kita dalam melayani mereka.

 

Akibat disrupsi yang terjadi, bagaimana tren industri wisata ke depan dan langkahlangkah apa yang dilakukan oleh PT Hotel Indonesia Natour (Persero)?

 

Akibat disrupsi digital dan millennial yang terjadi dewasa ini, industri wisata mengalami perubahan yang sangat besar dan mendasar, antara lain ditandai dengan tumbuhnya market millennial yang memiliki karakter dan cara yang jauh berbeda dengan cara, metode, dan pendekatan sebelumnya. Market millennial semakin bergaya hidup digital (digital lifestyle) di mana segala sesuatu dapat mereka lakukan dan penuhi secara instan melalui smartphone.

 

Selain faktor kemudahan dan kecepatan, caracara digital juga memungkinkan millennial mendapatkan value terbaik dan pilihan layananyang lebih banyak dan beragam. Hal ini akan menjadikan market millennial semakin demanding dan mereka juga akan lebih kritis dalam membelanjakan uangnya.

 

Dengan bantuan teknologi yang memungkinkan millennial melakukan pekerjaan dari remote, kini telah berkembang “bleisure”, yaitu mereka yang menggabungkan bisnis dan liburan (business and leisure) secara bersama-sama.

 

Mereka sangat menyukai untuk mendapatkan pengalaman lokal yang autentik (local experience dan authenticity), melakukan perjalanan yang berbeda (personalized), serta menikmati makanan dan minuman organik.

 

Sejalan dengan pengembangan yang dilaksanakan dan sebagai langkah antisipasi terhadap tantangan dan peluang ke depan, PT Hotel Indonesia Natour (Persero) saat ini terus melaksanakan transformasi dengan fokus peningkatan pada produk, layanan, human capital, dan value bagi customers.

 

Ke depan, PT HIN (Persero) dan Hotel Indonesia Group akan dikembangkan menjadi jaringan hotel bertaraf internasional yang mengedepankan layanan dengan keramahtamahan khas Indonesia dan memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para tamu, pelanggan, termasuk market millennial.

 

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour