Gairah Positif Teh Indonesia

Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu negara penghasil daun teh untuk industri. Meski demikian, bukan berarti Indonesia tidak memiliki budaya minum teh berkelas ala negara Eropa maupun Asia Timur. Bumi Nusantara juga memiliki "Budaya Patehan", ritual minum teh harian di Keraton Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono.

 

Saat ini patehan memang masih berlangsung di lingkup Keraton Yogyakarta. Namun, setidaknya itu bisa menjadi salah satu bukti teh Indonesia juga memiliki kekhasan tersendiri. Tidak lagi semata demi keperluan industri. Meski dalam skala terbatas, kini juga mulai banyak bermunculan tea packers lokal yang tidak kalah berkualitas.

 

 

"Lahirnya tea packers kecil bagus untuk menggaungkan teh. Memang tidak secara langsung berpengaruh ke perkebunan teh, tetapi gaung itu yang akan menciptakan sebuah trend baru, sehingga teh akan mulai dilirik perusahaan-perusahaan besar, pemerintah, sehingga bisnis teh akan semakin berkembang," ujar Ratna Somantri, pakar teh sekaligus penulis buku Kisah dan Khasiat Teh.

 

Menurut pendiri Komunitas Pencinta Teh itu, kontribusi teh Indonesia untuk industri masih terbilang kecil, namun tetap memiliki nilai positif. Melalui mereka nantinya teh Indonesia semakin dikenal masyarakat karena sebenarnya potensi teh Indonesia sangat besar, apalagi ditunjang semakin bermunculannya tea shops di kota-kota besar Indonesia.

 

Terlebih, teh sebenarnya juga memiliki karakter khas layaknya kopi. Jika dikenal sebutan specialty coffee di kopi, teh pun memiliki specialty tea. "Specialty tea memang belum ada definisi baku. Specialty tea itu teh yang bisa diminum saat itu juga, jadi teh yang tidak hanya bisa di-blend, tapi juga sudah memiliki karakter rasa sendiri," kata Ratna menguraikan.

 

Beberapa tea shops di Jakarta juga mulai memperkenalkan specialty tea Indonesia, seperti Lewis & Carroll yang berlokasi di Jalan Bumi, Kebayoran Baru. "Kami memiliki single origin tea dan tea blend. Di sini untuk teh, hampir 80 persen dari teh lokal," ujar Bambang Rusdianto, Research & Development Director Lewis & Carroll.

 

Menurut Bambang, teh-teh single origin memang unik dan memiliki karakter berbeda dari tiap-tiap wilayah di Indonesia. Untuk single origin, kebanyakan Lewis & Carroll mengambil langsung dari perkebunan di berbagai daerah di Jawa, antara lain dari Banten, Bandung, dan Cianjur.

 

"Kualitas teh Indonesia sudah mulai banyak yang bisa dibandingkan dengan teh-teh luar negeri. Beberapa harganya juga sudah cukup bagus untuk diekspor," ujar Bambang.

 

Seturut peningkatan kualitas teh itu, sambutan masyarakat terhadap teh juga mulai beragam. Kini mulai banyak yang datang ke tea shop untuk menikmati secangkir teh. Bahkan, demikian Bambang, di Lewis & Carroll antusiasme para tamu melebihi ekspektasi awal, sehingga kini sudah melampui target yang dicanangkan saat didirikan setahun lalu.

 

Sukses itu tidak terlepas pula dari konsep Lewis & Carroll, yaitu modern tea shop. Aneka teh ditempatkan pada beberapa sudut yang berdekatan dengan proses penyeduhan. Untuk alat menyeduh, Lewis & Carroll menggunakan steampunk modern. Dengan steampunk, proses penyeduhan diatur sepenuhnya oleh komputer, sehingga mampu meminimalisasi human error.

 

"Semua sudah diprogram, mulai dari jumlah teh, suhunya berapa derajat, air berapa cc, serta berapa menit waktu yang dibutuhkan. Semua sudah disetting," kata Bambang.

 

 

Selain Lewis & Carroll, Tea Et Al yang berlokasi di Galeri Lafayette, Pacific Place, Jakarta, juga menyajikan teh blend dengan merek sendiri. Kombinasi warna hitam dan emas terlihat sangat elegan dan mewah. Di depan pintu masuk terdapat aneka jenis teh hasil produksi sendiri.

 

Penempatannya meninggi, seakan menjadi penopang tea shop-nya. Di ujung ruangan, tea bar berwarna hitam elegan kian memperkuat kesan mewah tea shop ini.

 

Tea Et Al menyajikan teh dari berbagai negara penghasil teh dunia, seperti Indonesia, Jepang, India, Taiwan, China, Sri Lanka, dan Kenya. Saat ini terdapat lebih kurang 130-150 macam. Tea Et Al juga menjual tehnya untuk umum, juga seasonal package untuk berbagai acara. Semua itu demi mengakomodasi kebutuhan para tamu yang mulai menjadikan teh sebagai bagian gaya hidup sehat. Tea drinkers dan health conscious people bakal dimanjakan dengan kualitas teh yang disajikannya.

 

Namun, diakui Audilya Gunarto – pemilik Tea Et Al, saat ini teh belum terlalu membudaya ketimbang kopi. Begitu pula dalam hal penyajian serta ragam jenis teh. "Kebanyakan masih mengira teh itu black atau green dan jasmine. Tidak lebih dari itu. Banyak pula dari mereka belum mengetahui cara menyeduh teh yang benar, padahal cara penyeduhan untuk jenis teh berbeda itu berbeda pula. Cara menyeduh yang benar akan menghasilkan rasa teh yang maksimal," kata Audi menerangkan.

 

Terlepas dari budaya yang masih belum mengakar, Audi melihat dalam kurun tiga tahun ke depan bisnis tea shop semakin cerah. Optimisme itu didasari penilaian tentang khasiat teh yang baik bagi kesehatan serta beragam manfaat baik lainnya untuk tubuh. Selain itu, tentu antusiasme masyarakat Indonesia terhadap teh semakin meningkat. 

 

"Teh itu sangat luas cakupannya, bisa meliputi budaya, kesehatan, keunikan, dan ciri khas," ucap Audi.

 

Ia benar, cakupan teh memang sangat luas, mulai dari budaya sebagaimana patehan di Yogyakarta hingga keahlian ahli-ahli teh menciptakan teh unik dan baik untuk kesehatan. Semua akan berjalan seiring menjadikan teh Indonesia kian maju pada masa mendatang, mulai dari hulu hingga hilir. Alhasil, teh tidak hanya membudaya, tetapi juga andil menyejahterakan petani teh Indonesia.**

 

Teks & Foto: Dody Wiraseto

Sumber: Majalah Gracious

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour