Keindahan Bukit Menoreh dari Kalibiru

Saat ini, perjalanan Jogja berbeda seperti biasanya. Sebelumnya saya lebih memilih budaya dan kekayaan kuliner kota Gudeg ini. Keingintahuan dan perasaan rindu untuk kembali menjadikan kota ini menjadi istimewa, sebagai status istimewanya di Indonesia. Ya, kali ini saya sengaja menyisir sisi luar Jogja. Dimana alam adalah tujuan utama, hal ini didukung oleh kesopanan penghuninya dalam budaya.

 

Meninggalkan hiruk pikuk kota Jogja sejenak dan berganti ke sudut provinsi ini dengan sejarah perjuangan dan pemandangan alam yang lengkap, Kulonprogo. Setelah satu jam berkendara dari pusat kota, sawah hijau tampak menjadi pintu masuk Kulonprogo. Di sisi kiri jalan, rumah orang selalu memiliki tempat untuk mengeringkan nasi. Udara yang sejuk semakin terasa saat melewati "pintu masuk alami" ini. Setelah itu, sekelompok bukit di Wilayah Gunung Menoreh memberi suasana segar di sisi barat Jogja.

 

Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di sebelah utara Kabupaten Kulonprogo sebagai batas wilayahnya antara Kabupaten Purworejo di sebelah Barat dan Kabupaten Magelang di Utara.

 

Kawasan ini tidak hanya indah di mata. Di balik kabut pagi yang dramatis yang menusuk pepohonan, kawasan ini juga menyimpan cerita dan bagian sejarah Indonesia. Di sinilah tempat pembinaan Pangeran Diponegoro dengan pengikutnya dalam perang melawan Belanda.

 

Kalibiru benar-benar tujuan wisata di Kulonprogo. Hal ini tentunya karena kreativitas masyarakat sekitar dalam mengembangkan pariwisata mereka. Pesona ekowisata Kalibiru tidak dibangun seketika. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat Kalibiru terlihat seperti ini. Sebelumnya, kawasan ini tandus karena penebangan kayu.

 

 

Desa ini terletak di ketinggian 450 mdpl kemudian mengembangkan potensi wisata dengan trek tracking, home stay, viewing post dan aktivitas outbound yang menarik. Viewing Post yang dibangun di atas pohon pinus merupakan lokasi berharga untuk dikunjungi di destinasi ini. Bahkan saya harus mengantri dengan waktu yang terbatas untuk sampai kesana. Viewing Post ini menjadi tempat foto yang menarik dan semua orang dikenai biaya Rp 15.000.

 

Setelah antri sekitar satu jam, akhirnya saya berkesempatan naik ke puncak pos. Segarnya udara yang dikombinasikan dengan hamparan hutan hijau memberikan suasana yang benar-benar menyegarkan. Perbukitan memberi dimensi yang membuat pemandangan lebih indah. Di tengah, terdapat Waduk Sermo sebagai inti dari pemandangan ini. Di atas Viewing Post, jantung terus berdebar kencang. Tinggi pos ini sebenarnya mungkin sekitar 10 meter dari tanah, tapi saat kita di sana, rasanya seperti berada di puncak bukit Menoreh.

 

 

Saya sedikit lebih tenang karena alat pengaman dalam Viewing Post ini benar-benar tersedia. Sebelum memanjat, saya diberi semacam sabuk yang menempel pada tali di bawah pos. Begitu juga saat kita mencoba berbagai kegiatan outbound. Standar keamanan yang tinggi memastikan para wisatawan menikmati semua permainan di Kalibiru. **

 

Teks & Foto: Dody Wiraseto 

Translator: Miftah

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour