Tempat Tujuan: Rona Alam Budaya Bali di Ubud

Pantas memang Bali menjadi magnet pariwisata Indonesia. Selain masyarakatnya yang sangat sadar akan wisata sehingga mereka bisa mengembangkan ragam wisatanya, alam dan budaya Bali yang eksotik juga sangat mendukung. Itulah mengapa Bali seakan-akan menjadi toko serba ada destinasi wisata. Salah satu yang populer adalah kawasan Ubud.

 

Di Ubud, suasananya lebih tenang dengan budaya Bali yang kental. Ubud merupakan sebuah kecamatan di Bali yang terhimpun dari 13 banjar yang membawahi 6 desa adat. Kawasan ini memang tidak seperti Denpasar dengan ragam pantai dan pesona matahari terbenamnya yang terkenal seantero dunia. Topografi wilayah Ubud pada umumnya dikelilingi persawahan serta hutan-hutan yang diapit oleh jurang dan sungai.

 

Salah satu ikon wisata di Ubud adalah Tegallalang. Lansekap persawahan dengan ciri khas terasering terhampar di hijaunya Tegallalang, Ubud Bali. Di sinilah representasi kearifan lokal Bali yang tetap terjaga. Sawah dan pepohonan membentuk permadani hijau eksotik. Di sini pula sistem subak tetap lestari. Sistem irigasi yang dijadikan warisan budaya dunia oleh UNESCO di tahun 2012.

 

 

 

Kali ini saya mencoba untuk menikmati apa saja yang bisa dimaksimalkan saat berada di Ubud. Karena saya hanya memiliki waktu semalam saja di kawasan sejuk ini. Akhirnya setelah bertanya-tanya ke penduduk sekitar dan karyawan hotel, saya memilih memulai hari dari kawasan Kintamani, tepatnya Desa Pinggan. Dari sini suasana pagi begitu memikat dengan cahaya matahari yang menembus pepohonan sehingga memberikan pola alam yang luar biasa.

 

Sejenak berkontemplasi tentang alam Bali baru akhirnya perjalanan saya lanjutkan menuju Tegallalang. Dari Desa Pinggan menuju Tegallalang ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Idealnya memang menikmati Tegallalang sembari trekking di tepi sawahnya. Akan tetapi bila hanya ingin bersantai sembari melihat hijaunya sawah, bisa duduk sembari menyeruput secangkir kopi dan roti bakar di café-café sederhana di pinggirnya.

 

 

Secangkir kopi dan 3 potong roti sudah tandas. Saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni Ubud. Kesan seni memang sangat melekat dengan Ubud. Itulah mengapa Pasar Seni Ubud ini tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan asing maupun lokal. Di sini akan menemukan banyak kerajinan-kerajinan kesenian. Mulai dari baju, kain, kerajinan tangan seperti tas, topi, aksesoris, pajangan dinding, lukisan, souvenir, dan lain-lain. Pasar Seni Ubud terdiri dari dua lantai, terletak di pusat Ubud, persis berada di depan Puri Agung Ubud atau bangunan bekas kantor pemerintahan di masa Kerajaan Ubud tempo dulu.

 

Tempat ini memang menjadi lokasi mencari oleh-oleh khas Bali yang tepat. Harga yang ditawarkan pun termasuk terjangkau. Apalagi harga yang mereka berikan masih bisa ditawar lagi. Membuat pengalaman berbelanja di sini semakin menyenangkan. Di kawasan ini juga dipenuhi dengan restoran dan café yang asyik. Mulai dari bergaya casual sampai yang sangat santai. 

 

Karenanya saya akhirnya memilih menghabiskan siang hari di kawasan ini sembari menikmati hidangan makan siang di salah satu restoran. Alam budaya di Ubud telah menarik kreativitas masyarakatnya. Mungkin elemen itu yang membuat banyak seniman-seniman memilih kawasan ini sebagai sumber dan tempat mencari inspirasi. Tidak hanya seniman dari Indonesia, seniman-seniman dari Eropa juga banyak ditemui di kawasan ini.

 

 

Mulai dari kesenian lukis, ukir, hingga tari, hal-hal ini adalah denyut nadi Ubud dan menjadi identitas tempat tersebut yang sesungguhnya. Hal yang paling menarik lagi dari Ubud adalah kopi. Letak Ubud yang berbatasan langsung dengan Kintamani membuat minum kopi adalah ritual wajib. Saya memilih salah satu tempat menikmati Kopi Kintamani di Bali Pulina Coffee Plantation. Walau harus balik lagi ke arah Tegallalang namun saya rasa “ngopi sore” tidak ada salahnya ditunaikan.

 

Dari Tegallalalang ke Bali Pulina Coffee Plantation hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Seorang pemandu dengan sigap menyambut saya. Setelah membayar tiket masuk sekitar Rp.100.000,-, dia mengantarkan berkeliling ke area wisata kebun kopi dan melihat bagaimana proses kopi itu dibuat.

 

Kopi Bali memang sedari dulu telah mengisi keseharian saya. Kopi dari daerah Kintamani, merupakan biji kopi yang umum ditemui di coffee shop maupun di supermarket yang menjual kopi masih berbentuk biji. Di samping itu, Kopi Kintamani merupakan salah satu komoditas ekspor yang populer. Tidak heran bila tempat ini memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih lagi keberadaan Bali Pulina ini juga secara langsung membantu para petani lokal untuk menjual kopinya.

 

Puas menikmati kopi di Bali Pulina, saya menutup malam di Ubud dengan melihat pertunjukan kesenian tari di Bali. Ada banyak sanggar-sanggar tari dan biasanya mereka selalu melakukan pertunjukan setiap akhir pekan dari pukul 19:30-21:00. Ubud adalah tempat tepat untuk menyelami berbagai sisi unik dan menarik yang dimiliki tradisi dan budaya masyarakat Bali. ••

 

Teks & Foto: Dody Wiraseto

 

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour