Tempat Tujuan: Tanjung Layar, Sepasang Layar di Ujung Pulau Jawa

Pelabuhan Ratu menjadi tempat singgah yang pas sebelum melanjutkan perjalanan dari Ibukota menuju Tanjung Layar. Grand Inna Samudra Beach, hotel terbesar dan terbaik di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, menjadi pilihan saya bersama teman-teman untuk rileks semalam dengan kehangatan layanannya. Hotel milik Badan Usaha Milik Negara, yang dibangun pada akhir masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1962 dan selesai akhir 1965 ini terletak di antara pegunungan dan pantai ditambah nuansa tempo dulu yang begitu kental, membuat Grand Inna Samudra Beach sangat cocok untuk mengembalikan kondisi tubuh.

 

Setelah rileks di Pelabuhan Ratu, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Layar, objek wisata pantai yang berada di Desa Sawarna, Provinsi Banten.

 

Dari sini tinggal menyisakan perjalanan sekitar 50 km. Tak lama berselang, jalanan mulai menyempit dengan trek cukup menantang. Curamnya tanjakan dan turunan yang disambut kelokan-kelokan tajam membuat kami harus ekstra hati-hati saat berkendara melewati jalanan ini. Kondisi trek menantang membuat kami menghabiskan hampir dua jam untuk sampai di Desa Wisata Sawarna.

 

JEMBATAN GOYANG

 

Dari tempat parkir, kami pun berjalan kaki dan jembatan kayu sepanjang 10-15 meter menjadi pembuka petualangan kami di kawasan ini. Saat itu, terjadi antrean panjang orang yang hendak melintasi jembatan ini. Ternyata yang melewati jembatan kayu ini bukan hanya pejalan kaki, tetapi juga sepeda motor. Saya perhatikan, jembatan tersebut seperti bergoyang-goyang saat dilintasi baik pejalan kaki maupun sepeda motor. Melihat alasnya yang dari kayu, rasanya sulit dibayangkan jika saya mengendarai motor untuk melewatinya. Walaupun kayu, ternyata jembatan ini mampu menahan beban berat.

 

Kemudian tiba juga giliran kami untuk menyeberang. Jembatan itu bergoyang-goyang kala kami menjejaknya. Saya pun berjalan sambil memegang kawat di pinggirannya, namun goyangannya masih mengganggu keseimbangan badan. Setelah melintasinya, efek goyangan tersebut masih saya rasakan untuk beberapa saat. Hal yang sama pun dialami teman-teman saya ketika saya tanya. Jembatan goyang itu merupakan satu-satunya akses menuju pantai ujung pertama Pulau Jawa dan kini semakin banyak dikunjungi wisatawan.

 

Sekitar 1 km kami berjalan kaki menuju Pantai Sawarna, termasuk Tanjung Layar, yang banyak dibincang sebagai hidden paradise. Di sepanjang jalan kecil yang dilalui, berjejer rumah warga yang juga dijadikan sebagai penginapan. Selain itu, tukang ojek pun banyak berlalu lalang di jalanan ini.

 

TEBING BERBENTUK LAYAR

 

Menjelang siang, saya sudah berjalan melewati perkebunan kelapa menyisir hamparan pasir putih yang membentang dengan cantik. Ombak pun bergulung-gulung membelai pantai ini dan seperti hendak mengajak saya untuk bermain bersamanya. Saya pun terus berjalan sambil menikmati keeksotisan pantai ini menuju spot utamanya, Tanjung Layar, yang juga menjadi ikon Pantai Sawarna.

 

Langkah kaki saya sempat terhenti sejenak saat disajikan pemandangan sebuah pohon besar yang tumbang ke arah pantai. Sajian ini menawarkan keunikan tersendiri, sehingga saya pun menghabiskan waktu sebentar untuk menikmatinya.

Kala itu, banyak juga pengunjung berjalan menuju tanjung yang dinamai Java’s Eerste Punt (Ujung Pertama Pulau Jawa) semasa kekuasaan Hindia-Belanda. Letaknya yang berada di ujung Pulau Jawa ini tentu memberikan daya pikat tersendiri.

 

Setelah berjalan sekitar 15 menit, sepasang tebing karang sudah mulai terlihat. Tebing karang ini bentuknya menyerupai layar perahu yang menjulang kokoh di pinggir pantai yang sedikit menjorok ke laut. Tebing karang ini juga merupakan bagian ujung dari tanjung. Itulah sebabnya areal ini dinamakan Tanjung Layar.

 

Keindahan sepasang tebing karang berbentuk layar yang tinggi-besar ini semakin lengkap dengan hadirnya jejeran barikade karang yang membentang sekitar 1 km di bagian belakangnya. Barikade karang ini memecah derasnya deburan ombak laut selatan Jawa yang hendak menerjang kemegahan sepasang tebing karang ini. Hingga kini, sepasang tebing karang ini tetap terlindungi dan tetap nyaman bertengger di posisinya.

 

Kecantikan sepasang tebing karang ini membuat puluhan, bahkan ratusan pengunjung menyeberang mendekati dan menginjakkan kaki di sana. Beruntung, air yang harus dilewati tidak terlalu dalam, dari sebatas pinggang hingga sedada. Namun tetap harus hati-hati memijak supaya tidak terpeleset, apalagi bagi yang membawa kamera ataupun ponsel.

 

 

Tepat di bawah megahnya tebing karang, mereka ber-pose dan mengabadikan momennya. Kilauan tongsis pun banyak terlihat di sekitaran pantai ini. Di tepian pantainya pun tidak kalah ramai. Indahnya sepasang tebing karang yang menjulang tinggi menjadi latar mereka berfoto. Selain itu, karang-karang yang ada di sekitarnya pun tidak kalah cantik untuk dijadikan spot berfoto, apalagi ditambah hamparan pasir putih.

 

Tak terasa, hari pun semakin terik sehingga saya pun memutuskan untuk beristirahat di saung yang banyak berjejer di pantai. Kelapa muda menjadi hidangan menyegarkan yang sangat pas sembari menunggu sore. Selain banyak penjaja makanan dan minuman, banyak juga yang menawarkan kaos bertemakan Tanjung Layar serta pernak-pernik khas pantai.

 

MENANTI SUNSET

 

Semakin sore, semakin banyak pengunjung yang berdatangan ke Pantai Sawarna. Mereka pun mempunyai tujuan yang sama dengan saya, yaitu menantikan momen tenggelamnya sang mentari. Sambil menunggu, sejumlah pengunjung ada yang asyik bermain bola, berkreasi dengan pasir pantai, menikmati gulungan ombak yang membelai pantai, atau nongkrong di saung sambil menikmati jajanan.

 

 

Tak lama kemudian, kedua kaki ini pun kembali melangkah menuju sepasang tebing karang. Saya pun mulai memerhatikan pengunjung, berpikir apakah sunset terbaik adalah di bagian tebing karang. Keraguan muncul ketika banyak pengunjung yang

berjalan ke arah berlawanan. Namun keraguan tersebut terjawab saat mencapai sepasang tebing tinggi itu. Di sini ternyata sudah banyak yang menunggu momen tersebut.

 

Setelah memerhatikan sekitar, sepertinya sepasang tebing karang itu merupakan tempat yang tepat. Jika tadi siang saya hanya memerhatikan orang-orang yang menyeberang menuju karang, kini lain cerita. Sambil mengangkat kamera, saya pun memberanikan diri menyeberang ke tebing berbentuk layar itu. Tidak masalah badan basah, yang penting kamera aman.

 

Cukup lama waktu yang saya habiskan untuk menyeberang karena harus benar-benar memilih pijakan agar tidak terpeleset dan jatuh. Memang benar, dari dekat, sepasang tebing karang berbentuk layar ini tampak lebih indah dan benar-benar terasa sangat besar. Barikade karang yang berjejer di belakangnya ternyata benar-benar sangat membantu. Ombak yang hendak menerjang pun terhalang sehingga air di sekitarnya sangat dangkal, hanya beberapa centimeter saja.

 

Momen yang dinanti-nanti pun tiba. Cahaya senja perlahan-lahan memudar di ujung cakrawala. Siluet sepasang tebing karang yang menjulang tinggi menemani romantisme di Tanjung Layar. Setelah sang mentari kembali ke peraduannya, saya pun kembali menyeberang menuju pantai bersama pengunjung lainnya.

 

Seiring semakin gelapnya hari, saya bersama teman-teman pun kembali menuju Grand Inna Samudra Beach di Pelabuhan Ratu untuk beristirahat. Keesokan harinya, barulah kami kembali ke ibukota.**

 

Teks & Foto: Riman Saputra N

 

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour