Tim Kami Selalu Memberikan yang Terbaik

Fajar Subeni, atau akrab dipanggil Beni, bisa jadi merupakan salah satu karyawan yang mengabdi cukup lama di PT Hotel Indonesia Natour (Persero), yakni sekitar 35 tahun. Ia mulai bekerja di PT Hotel Indonesia Natour (Persero) pada tahun 1984 dengan lokasi tugas di hotel Grand Inna Malioboro—yang dulunya masih bernama hotel Natour Garuda.

 

Untuk mengetahui kisahnya, Gracious mewawancarai Pak Beni di lokasi kerja barunya, yaitu Grand Inna Tunjungan. Berikut hasil wawancaranya.

 

Bisa diceritakan perjalanan karier Bapak di PT HIN (Persero) hingga akhirnya menjadi GM di Grand Inna Tunjungan?

 

Saya lama bekerja di Yogyakarta. Pada tahun 1984 saya mulai kerja di hotel Natour Garuda, sekarang namanya menjadi Grand Inna Malioboro. Saya kerja di sana selama 30 tahun 1 bulan.

 

Saya memulai kerja dari housekeeping, kemudian lama di kitchen sekitar 9 tahun sampai menjadi top level, lalu menjadi f&b manager, dan terakhir menjadi orang kedua di hotel, yaitu resident manager atau EAM. Lalu, saya pindah ke Inna Tretes pada September 2014 menjadi GM, dan terakhir pindah ke sini pada Februari 2017.

 

30 tahun itu kan waktu yang lama, tidak ada niat pindah kerja ke tempat lain?

 

Saya ini asli Yogyakarta. Waktu itu saya dapat beasiswa dua kali kuliah di STP bandung dari hotel Grand Inna Malioboro. Orang yang disekolahkan ‘kan ada regulasinya harus mengabdi sekian tahun. Sebetulnya, waktu pengabdiannya sudah habis, dan ada kesempatan untuk keluar.

 

Waktu itu saya mau kerja di cruise. Namun, saya pikir berkarier tidak harus di cruise, kalau cari uang iya di cruise. Saya pun memutuskan untuk tetap bekerja di PT HIN (Persero). Saya juga dibesarkan di sini, dari lulus SMA lalu dikuliahkan sampai S2. Kuliahnya jurusan food production.

 

Waktu pindah dari Jogja ke Inna Tretes lalu ke Grand Inna Tunjungan, apa tantangan yang dihadapi?

 

Pertama adalah propertinya. Lalu, kita coba ubah fisiknya karena jualan utamanya kita adalah produk. Lobi saya ubah, restoran juga diubah. Saya renovasi kamar juga di bawah yang merupakan karya kami sendiri. Ballroom juga karyawan yang membuat. Little Kyoto juga karya saya. Setelah produk, tantangan kedua adalah SDM.

 

Kemudian saya pindah ke sini sempat pegang dua hotel sekaligus, yaitu Inna Tretes dan Grand Inna Tunjungan, sekitar enam bulan karena di Inna Tretes belum ada GM.

 

Grand Inna Tunjungan adalah city hotel, lebih ke bisnis. Tantangannya juga produknya. Kita memperdayakan SDM untuk mengadakan perubahan-perubahan, seperti tiga ruang meeting kita renovasi, dan sisanya juga akan direnovasi.

 

Kita juga berencana membuat ballroom di belakang, targetnya adalah MICE dan wedding. Ballroom ini akan menjadikan bisnis utama Grand Inna Tunjungan.

 

Yang lebih menarik lagi, ballroom itu akan berdampingan dengan masjid di lantai 3. Itu akan menjadi satu-satunya hotel dengan masjid yang berdampingan dengan ballroom. Itu akan memudahkan untuk kegiatan pernikahan yang membutuhkan akad nikah dan resepsi bersebelahan. Itu key point-nya.

 

Coffee Terrace ini dibuat asal muasalnya karena banyak orang yang ingin merokok dan tempatnya tidak ada, jadi mereka menyebar di mana-mana di sekitar hotel. Makanya, kita buatkan satu tempat saja untuk merokok sekaligus untuk makan dan minum.

 

Bapak sepertinya senang dengan renovasi produk. Untuk SDM apakah bapak juga adakan perbaikan?

 

Kita adakan pelatihan dari basic level sampai top level. Bahkan, GM juga mendapatkan pelatihan. Jadi, semua lini mendapatkan pelatihan untuk pembenahan SDM. Pelatihan itu untuk mengetahui produk yang dijual sampai pelatihan manajemen dan teknologi.

 

Kita juga melibatkan karyawan dalam menjual produk melalui komunitas atau teman-temannya, dan kita berikan harga spesial. Harapan kami karyawan tidak hanya sebatas menerima gaji, tapi juga mencari tamu. Dan itu di setiap divisi ada, dari accounting, engineering, front office, marketing, hingga f&b. Kita berdayakan SDM yang ada.

 

Bisa diceritakan apa suka dukanya bekerja di industri perhotelan?

 

Yang pertama saya tidak bermimpi kerja di hotel. Dulu saya mimpinya jadi AKABRI, tapi gagal. Saya sudah tes sampai akhir, tapi tidak diterima. Saya modalnya mau masuk AKABRI karena dulu saya itu atlet beladiri. Itu pada tahun 1984. Akhirnya, saya bekerja di hotel.

 

Lebih banyak sukanya justru di sini, karena banyak hospitality-nya. Dukanya, sih, ada, tapi lebih banyak sukanya.

 

Apa tips untuk mendekatkan diri dengan tim yang baru?

 

Kami sama tim boleh dikatakan tidak ada jarak atau penghalang. Kami adalah satu tim. Saya menggunakan tiga pendekatan, yaitu demokratik, partisipatif, terkadang otokratik. Dengan metode partisipatif itu tim kami menjadi sangat solid karena mereka dilibatkan. Kami take together semuanya. Pendekatan otoktratik terkadang diperlukan juga, tapi memang tidak banyak.

 

Hashtag kami di tahun lalu adalah never give up, never back down. Lalu di tahun ini berubah lagi menjadi setiap karyawan harus punya empat karakter, yaitu profesional, loyal, militan, dan inovatif. Itu adalah empat poin yang tidak bisa dipisahkan.

 

Karyawan harus loyal pada perusahaan karena mereka hidup dari perusahaan. Militan itu untuk kerja sama dan kerja keras, jadi mereka ikut membuat dan merawat hotel ini. Profesional itu mereka bekerja sesuai dengan bidang masing-masing. Keuntungan punya banyak karyawan milenial adalah mereka ini sangat kreatif dan inovatif.

 

Target yang ingin dicapai untuk hotel dan personal?

 

Targetnya hotel ini harus untung. Yang kedua adalah berkembang. Secara personal, karyawan harus happy. Kalau karyawan happy, mau melakukan sesuatu itu jadi enak.

 

Apa hobi bapak saat ini, apakah masih suka beladiri?

 

Saya sudah tidak aktif beladiri lagi. Saat ini hobi saya adalah olahraga jogging dan fitness.

HIN Internalisasi AKHLAK sambut New Normal & Holding Hotel BUMN
Virtual Tour